Abstrak
Penelitian ini mengkaji mengenai Arsitektur bangunan Kampung Kemasan di Gresik sebagai bukti dan wujud silang budaya masyarakat maritim. Kampung Kemasan merupakan salah satu bagian dari Kota Lama di Gresik yang memiliki ciri khas arsitektur bangunan perpaduan dari Cina dan Eropa.
Fokus kajian ini menitikberatkan pada pembahasan arsitektur bangunan yang menjadi ciri Kampung Kemasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan narasi berupa catatan dan data deskriptif yang menggambarkan kondisi atau keadaan. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi data sumber triangulasi metode triangulasi peneliti, triangulasi teori. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis interaktif yang meliputi:reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Kemasan terbentuk berawal dari kedatangan seorang pengrajin emas bernama Bak Liong. Karena profesinya tersebut wilayah tersebut di sebut Kampung Kemasan. Lambat laun Kampung Kemasan menjadi tempat pemukiman para saudagar kaya baik dari Eropa, Cina, Arab maupun Bumiputera. Bangunan yang dulu dihuni hingga kini tetap lestari dan menjadi cagar budaya Gresik. Bangunan-bangunan tua tersebut memiliki ciri khas dengann seni arsitektur perpaduan antara budaya China dan Eropa maupun lokal seperti dari warna, ornamen maupun pemanfaatan fungsi bangunan.
Fokus kajian ini menitikberatkan pada pembahasan arsitektur bangunan yang menjadi ciri Kampung Kemasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan narasi berupa catatan dan data deskriptif yang menggambarkan kondisi atau keadaan. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi data sumber triangulasi metode triangulasi peneliti, triangulasi teori. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis interaktif yang meliputi:reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Kampung Kemasan terbentuk berawal dari kedatangan seorang pengrajin emas bernama Bak Liong. Karena profesinya tersebut wilayah tersebut di sebut Kampung Kemasan. Lambat laun Kampung Kemasan menjadi tempat pemukiman para saudagar kaya baik dari Eropa, Cina, Arab maupun Bumiputera. Bangunan yang dulu dihuni hingga kini tetap lestari dan menjadi cagar budaya Gresik. Bangunan-bangunan tua tersebut memiliki ciri khas dengann seni arsitektur perpaduan antara budaya China dan Eropa maupun lokal seperti dari warna, ornamen maupun pemanfaatan fungsi bangunan.
Kata Kunci : Arsitektur Bangunan, Kampung Kemasan, Silang Budaya Maritim
PENDAHULUAN
Ragam budaya Indonesia begitu kaya. Budaya dapat terwujud melalui ide atau gagasan, aktivitas maupun artefak. Budaya bangsa terlahir dengan adanya interaksi di antara manusia. Wujud budaya yang terinternalisasi berkembang dengan terbentuk budaya lokal, keseluruhannya terintegrasi menjadi pondasi budaya nasional. Kekayaan budaya bangsa Indonesia semakin kaya dan beragam sebagai akibat dari interaksi dengan kebudayaan asing. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari bangsa Indonesia yang memiliki potensi letak wilayah yang strategis di antara dua benua dan dua samudera. Serta potensi kemaritiman yang dimiliki menjadikan Indonesia sejak dulu kala menjadi tempat yang strategis untuk dikunjungi berbagai bangsa. Denyut nadi dari bangsa Maritim tidak lepas dari pelayaran dan perdagangan. Kedua hal tersebut memungkinkan terjadinya interaksi dan silang budaya dalam masyarakat.
Banyak lahir kota-kota dagang di pesisir pantai utara di Jawa melalui perdagangan maritim antar pulau maupun internasional. Terdapat kota dagang seperti Samudera Pasai, Makasar, Banten, Demak, lamongan, Tuban, Gresik maupun Surabaya. Berabad-abad lamanya perdagangan antar pulau dan negara memunculkan interaksi sosial budaya yang cukup intens. Bahkan banyak pedagang-pedagang asing seperti Arab, Cina, Eropa yang mulai menetap di kota-kota dagang mencari peruntungan, jauh dari tempat asal. Perdagangan dan jasa merupakan salah satu ciri masyarakat kota. Terdapat pembagian kerja sebagai bentuk manajamen sumber daya manusia dengan spesialisasi tertentu. Gresik adalah salah wilayah di pesisir laut Jawa yang menjadi rujukan dalam perekonomian dan berkembang menjadi sebuah kota yang disinggahi pedagang-pedagang asing. Gresik muncul sebagai salah satu kota bersejarah yang di dalamnya terdapat sebuah entitas budaya seperti adanya perkampungan-perkampungan.
Pemaknaan kampung telah didefinisikan dari beberapa ahli menurut alasan-alasan yang berbeda. Pada penelitian ini fokus pemaknaan kampung dikaitkan dengan kebudayaan penghuninya (identitas etnis). Kebudayaan adalah keselurahan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil dan karyanya (Koentjaraningrat, 1985). Kemunculan sebuah entitas budaya Kampung Kemasan di Gresik merupakan sebuah proses panjang dari pengaruh resik yang berorientasi maritim. Kedatangan bangsa asing seperti Cina, Arab maupun Eropa untuk melakukan perdagangan dan berinteraksi masyarakat setempat. Cukup banyak dari bangsa asing yang mulai menetap dan bahkan menikah dengan wanita setempat. Mereka membawa pengetahuan, budaya, serta spesialisasi yang mereka miliki. Munculnya Kampung Kemasan berangkat dari sebuah spesialisasi kerja berupa pengrajinan emas yang dibawa oleh saudagar China. Terbentuknya sebuah perkampungan seperti Kampung Kemasan di dalam kota pelabuhan seperti Gresik merupakan kajian yang menarik untuk ditelusuri sejarah perkembangannya sebagai sebuah bentuk interaksi yang heterogen antar masyarakat setempat dan pendatang sehingga terjadi silang budaya.
Kampung Kemasan memiliki ciri khas khususnya dari seni arsitektur bangunan yang bergaya Eropa, Cina maupun lokal. Hal tersebut menjadi perhatian banyak peneliti seperti penelitian dari Rizienta pada tahun 2015 tentang Arsitektur Fasade Bangunan Rumah Tinggal Kolonial Belanda Di Kawasan Nyai Ageng Arem-Arem Gresik. Dalam tulisan ini penulis ingin menfokuskan pada sisi keunikan arsitektur bangunan di Kampung Kemasan dengan sudut pandang perpaduan unsur budaya yang ada. Dari fakta yang telah dipaparkan penulis ingin mengkaji penelitian mengenai Kampung Kemasan dengan judul “Arsitektur Bangunan Kampung Kemasan Sebagai Evidensi dan Wujud Silang Budaya Maritim di Gresik”.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan narasi berupa catatan dan data deskriptif yang menggambarkan kondisi atau keadaan. Subjek penelitian ini adalah sumber yang memberikan informasi dalam penelitian yaitu manusia: narasumber yang diwawancarai dan lokasi berupa Kampung Kemasan.
Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan terkait dengan penelitian-penelitian sejarah Gresik dan Kampung Kemasan. Serta menggunakan teknik wawancara. Narasumber bernama Umar Zainuddin salah satu pemilik rumah cagar budaya di Kampung Kemasan. Pengumpulan data berikutnya melalui observasi dan dokumentasi Kampung Kemasan Gresik. Validitas data menggunakan triangulasi data sumber triangulasi metode triangulasi peneliti, triangulasi teori. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif dengan tiga tahapan yang terjadi berkelindan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi (Sutopo, 2002: 96).
Pembahasan
Kondisi Gresik Awal Abad XIV Hingga Abad XVII
Terdapat beberapa versi mengenai nama Gresik berdasarkan catatan-catatan yang ada. Dalam Babad Gresik disebutkan bahwa nama Gresik pernah disebut sebagai “Gerwarasi”, pada masa Majapahit sekitar abad 14 M seorang keturunan bangsa Arab yaitu Maulana Mahpur dengan saudaranya Maulana Malik Ibrahim bersama 40 pengiring dengan tertuanya Sayyid Yusup Mahrabi pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Kemudian mereka berlabu di Pantai Jawa Timur, dan mereka menetap disana, dan saat itulah mereka menyebutnya dengan nama “Gerwarasi”. Selain itu Pada tahun 1387 M Gresik sudah dikenal sebagai wilayah kekuasaan maharaja Majapahit. Ini terbukti dari Piagam Karang Bogem, yang berisi ketetapan tentang kawula, budak, atau orang tebusan di keraton yang berasal dari Gresik. Nama lain dari Gresik menurut sumber dari barat yaitu Agace dan Grissee. Bangsa Portugis ketika pertama kali mendarat di Gresik sekitar tahun 1513 M mereka pernah menyebut Gresik sebagai “Agace”. Dan bangsa Belanda awalnya menyebut “Gerrici” kemudian dalam banyak dokumen tertulis menjadi “Grissee”. Sampai sekarang tulisan ini dapat dilihat pada sebuah kantor dagangnya di Kampung Kebungson Gresik (Tim Penyusun Buku Hari Jadi Kota Gresik, 1991:19)
Kota Gresik terletak pada titik 7˚9’45” Lintang Selatan dan 112˚38’ 43” Bujur Timur. Secara topografis daerah ini kurang tepat difungsikan untuk usaha pertanian. Keadaan alam khususnya tanah dan sulitnya penyediaan air pertanian menyebabkan secara naluriah masyarakat Gresik cenderung memilih profesi non pertanian yaitu berdagang dan pengrajin (Pemda Kab. Gresik, 2003:41). Profesi pedagang maupun pengrajin mayoritas ditekuni oleh masyarakat kota dan pesisir, sedangkan untuk masyarakat pedesaan mengusahakan sektor pertambakan atau peternakan.
Sejak diperhitungkan sebagai wilayah singgah oleh pedagang dunia, Gresik lambat laun tumbuh menjadi sebuah kota dagang. Masyarakat yang berdiam di suatu kota memang menunjukkan spesialisasi dalam bidang kehidupannya. Max Weber membagi masyarakat kota berdasarkan kecakapan warga masyarakatnya, yaitu: (1) masyarakat yang memberikan jasa primer; (2) menjalankan fungsi pendidikan, dan politik; (3) menjalankan fungsi industri; (4) mempunyai fungsi distribusi (Soekanto. 1982:2015). Gambaran masyarakat yang dikemukakan Weber di atas adalah sebagaimana yang terjadi di Gresik.
Gambar 1. Populasi kota-kota di Asia Tenggara (Reid, 2011: 90)
Dalam sejarahnya, Gresik mengalami perubahan bertahap mengenai pusat pemerintahannya. Sebelum menjadi sebuah Kabupaten yang sekarang bernama Kabupaten Gresik, pemerintahan sudah pernah ada di kota ini. Pada abad ke 15 M, di Gresik telah berdiri pusat pemerintahan berupa Kerajaan Giri Kedaton oleh Sunan Giri (Prabu Satmata). Setelah Giri hancur, sekitar abad ke 17 Gresik mulai menjadi sebuah Kabupaten dengan nama Kabupaten Tandes, dimana Sidayu yang sekarang masuk dalam wilayah Gresik pada waktu itu berdiri sendiri sebagai kabupaten. Selain itu setelah kekuasaan Kabupaten Tandes, Gresik juga pernah masuk menjadi wilayah Kabupaten Surabaya. Ketiganya memang merupakan tonggak sejarah yang mengantarkan terbentuknya Kabupaten Gresik sekarang ini.
Peranan Gresik dalam Sejarah Maritim Nusantara
Gresik merupakan salah satu kota pelabuhan yang penting sejak zaman Kerajaan Majaphit. Posisinya yang strategis dalam jalur perdagangan internasional menyebabkan banyak pedagang asing yang singgah serta berdagang disana. Anthony Reid (2011: 3) menyatakan bahwa pusat-pusat perdagangan di wilayah bawah angin adalah kota-kota di Asia seperti Pegu, Ayutthaya, Pnompenh, Hoi An (Faifo), Melaka, Patani, Brunei, Pasai, Aceh, Banten, Jepara, Gresik, dan Makassar. Gresik sering disebut dalam sumber-sumber Cina yang mengindikasikan bahwa Gresik memiliki hubungan dengan Cina. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Mills dalam Pradjoko dan Utomo (2013: 207) nama Gresik (Ko-erh-shi) disebut dalam Ying-yai Shêng-lan bersama-sama dengan nama Tuban (Tu-pan), Surabaya (Su-lu-ma-i atau Su-erhpa- ya), Canggu (Chang-ku), dan Majapahit (Man-che-po-i). Jawa bagian timur memiliki beberapa kota pelabuhan seperti Tuban (Ta-pan atau Tu-pan), Sidhayu, Hujunggaluh (Jungya- lu atau Chung-kia-lu), dan Surabaya. Namun Gresik menjadi penghubung antara pelabuhan-pelabuhan tersebut karena letak geografisnya yang lebih menguntungkan (Pradjoko & Utomo, 2013: 206). Menurut Pradjoko dan Bambang (2013: 207) Gresik berkembang sangat pesat utamanya setelah abad 1400 Masehi, hal ini dibuktikan dengan kedatangan Man Huan dan menyatakan bahwa Gresik menjadi sebuah kota pelabuhan terbaik dan terpenting disana. Pendapat ini diperkuat oleh Tomé Pires dalam Suma Oriental yang menyataan bahwa Gresik atau Agracii sekitar tahun 1512 merupakan bandar dagag terbesar dan terbaik di Jawa sehingga mendapat julukan “Permata dari Jawa” (Armando Cortesão, 1944, 192-194). Man Huan menyebutkan jika komoditas perdagangan di kota ini adalah emas, batu permata, serta keperluan lain yang dibutuhkan dalam perdagangan internasional. Selain itu di Gresik merupakan tempat pemasaran kain dari Pasuruan, kain ikat warna dari Sumbawa, serta kain dari Bali dan Madura (Reid, 2014:107). Kain-kain ini sangat terkenal di dunia perdagangan internasional pada masa itu. Daerah Aceh pada masa ini terkenal sebagai penghasil emas di nusantara namun daerah ini juga mengimpor emas dari Gresik. Diperkirakan para empu di Jawa sanggup menarik keuntungan semata-mata dengan mengubah emas impor menjadi benang dan mengekspornya kembali (Reid, 2014: 113). Selain itu menurut Anthony Reid (2014:34) bahwa Gresik adalah pelabuhan terpenting dalam memasarkan garam.
Mengenai keadaan ekonomi dan politik di Gresik pada permulaan abad ke-16 terdapat keterangan-keterangan penting dalam buku Tome Pires, Summa Oriental. Musafir Portugis itu menganggap Gresik sebagai kota perdagangan laut yang paling kaya dan paling penting di seluruh Jawa. la memberitakan adanya transaksi yang diadakan oleh kapal-kapal dari Gujarat, Calicut, Bengalen, Siam, Cina, dan Liu-Kiu dengan Gresik, dan perdagangan antara Gresik dan Maluku serta Banda (De Graaf, 1985). Pada abad ini pula kekuatan kota pelabuhan daerah pesisir Jawa bagian Timur seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik, dan Surabaya menjadi kuat karena adanya revolusi teknologi dan militer (Reid, 2011: 76).
Gambar 1. Pusat Politik Abad 1600 (Reid, 2014: 12)
Pelabuhan Gresik dinilai bersifat sebagai bandar dagang sebab komoditas yang ditawarkan pada pelabuhan ini mayoritas bukan merupakan komoditas asli yang dihasilkan oleh Gresik. Pelabuhan ini menjadi pintu perputaran komoditas dari wilayah hinterland menuju wilayah outerland, ataupun sebaliknya. Besarnya daya beli masyarakat, ditambah beragamnya komoditas dagang yang terdapat di pelabuhan Gresik, membuat para pedagang tidak perlu singgah di pelabuhan lain untuk menukar barang dagangan yang dibawa dari wilayah asalnya. Sistem semacam ini adalah perdagangan yang berwatak dagang tempuh, artinya pedagang diam di suatu tempat untuk mendapatkan dagangan sekaligus menjual kepada yang memerlukan. Pada abad 15 M sampai 17 M, selain sebagai pasar rempah-rempah, Gresik juga menjadi pelabuhan ekspor hasil-hasil bumi, seperti beras, gula, ikan, daging lembu/kerbau, dendeng, kacang-kacangan, dan binatang ternak (kuda). Barang-barang lainnya, seperti garam yang dihasilkan oleh daerah Pati dan Juwana, dibawa ke Gresik dalam jumlah besar, untuk selanjutnya diangkut ke Banten dan dikapalkan menuju Sumatera. Demikian pula kapas (katun) dari pedalaman juga dipasarkan di Gresik (Kris, 2018:56)
Perdagangan antara Gresik dan Samudera Pasai juga terjalin baik terlihat dari adanya pemenuhan kebutuhan barang. Disebutkan oleh Inagurasi (2017:21) bahwa garam diketahui merupakan komoditas perdagangan di daerah pantai misalnya pantai-pantai di Jawa Timur seperti Juwana dan Gresik. Antara Samudra Pasai dengan Jawa (Gresik) telah terdapat jaringan perdagangan. Kapal-kapal dari Jawa berlayar menuju ke Samudra Pasai memuat beras, kemudian dalam pelayaran kembali dari Samudra Pasai menuju ke Jawa kapal-kapal tersebut memuat lada.
Komoditi lain yang laku keras di Gresik, yaitu ternak sapi atau lembu. Meskipun ternak ini dikembangkan di Madura, tetapi tampaknya untuk proses perdagangan lebih banyak dilakukan di Gresik. Kulit rusa juga merupakan komoditi utama. Bahkan, jauh sebelum orang-orang Belanda mengekspor barang tersebut ke Jepang, berdagang kulit rusa telah dilakukan para saudagar Gresik.
Gresik pada akhir abad XIV M masih menjadi wilayah pemerintah Hindu Majapahit, telah dengan cepat menampilkan diri sebagai pusat perdagangan Islam. Munculnya pusat perdagangan yang berjalan cepat itu rupanya justru sebagai akibat langsung dari posisinya sebagai pelabuhan dagang yang tumbuh di luar benteng. Pelabuhan yang berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang tidak dikontrol secara langsung oleh pusat kekuasaan Majapahit. Sebaliknya sumber babad dan tradisi lisan justru lebih banyak mengesankan peran para syahbandar yang diangkat oleh pemerintah Majapahit. Administrasi pusat perdagangan dipercayakan kepada syahbandar yang secara kebetulan juga penganjur agama Islam dan memiliki pengaruh besar pada pranata sosial mayarakat sekitarnya. Otonomi politik amat besar yang dimiliki oleh syahbandar dan norma kehidupan yang longgar di kota pelabuhan menyebabkan masyarakat yang lebih terbuka terhadap perubahan di segala bidang.
Gresik memilki peran menjadi pelabuhan dagang pada abad XIV M, dengan berbagai faktor yang menyertainya, (1) letak geografis yang strategis dengan kondisi pelabuhan yang menguntungkan baik secara alamiah maupun secara ekonomis; (2) memiliki hinterland yang subur dan kaya akan komoditi perdagangan; (3) perkembangan ekonomi dan perdagangan dunia; (4) kondisi sosiologis penduduknya yang heterogen dan berorientasi pada sektor perniagaan; serta (6) adanya perubahan sosial budaya masyarakat dari Hindu agraris menjadi Islam maritim.
Arsitektur Bangunan Kampung Kemasan sebagai Evidensi dan Wujud Silang Budaya Maritim di Gresik
Adrian Vickers, sejarawan Australia, menggunakan istilah peradaban pesisir untuk merekam “prinsip interaksi yang dinamis, atau pergerakan dan kreasi aktif heterogenitas”atau dapat dikatakan peradaban pesisir merupakan istilah yang serupa dengan budaya maritim. Budaya maritim mengacu pada hasil budaya masyarakat maritim dari proses interaksi. Seperti musiknya, pesisir adalah wilayah terbuka yang dinamis dan banyak gerak (pedagang memiliki mobilitas tinggi dibanding petani). Wilayah ini merupakan saling silang budaya dimana satu dengan yang lain saling berinteraksi secara leluasa. Agama umumnya menyebar melalui pesisir sebelum berkembang kemana-mana. Komposisi penduduk di pesisir cenderung heterogen. Di Pekalongan dengan mudah dapat ditemui komunitas Tionghoa, dan Arab yang hidup bertetangga dengan orang Jawa. Pesehubungan yang leluasa seperti ini memberi sumbangan berharga bagi integrasi Indonesia yakni lingua franca, sebagai perantara komunikasi efektif yang mampu menjebatani keragaman bangsa Indonesia. Bahasa Melayu pasar sebagai lingua franca memilki akar dari bahasa yang berkembang di Riau kepulauan dan menyebar luas ke seluruh nusantara terutama melalui perdagangan. Berdasarkan perkembangannya terdapat enam klasifikasi budaya maritim yang dapat ditemui, seperti adanya teknologi perkapalan, navigasi pelayaran, angkutan laut, tradisi maritim, seni budaya maritim serta kota dan masyarakat pelabuhan (Supangat, 2003)
Pertama, Teknologi Kapal. Kapal merupakan transportasi maritim yang menghubungan antar wilayah yang terpisahkan oleh perairan. Kapal dan perahu di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok besar. Berdasarkan teknik pembuatannya terbagi menjadi dua yaitu kapal lesung dan kapal papan. Perahu lesung pembuatannya paling sederhana namun memerlukan teknik atau keterampilan dan keahlian khusus. Dari memilih kayu yang cocok, cara menebang pohon hingga pekerjaan mengeruk. Pekerja harus memiliki kesabaran dan ketekunan dalam pembuatannya. Apalagi penggunaan alat yang sangat sederhana. Sedangkan kapal papan pembuatannya lebih mudah dan pengerjaannya tidak tergantung pada sebatang kayu seperti pada kapal lesung. Sehingga dapat membuat ukuran kapal yang lebih besar.
Kedua, navigasi pelayaran. Teknologi pelayaran pertama kali berkembang di indonesia berdasarkan penggunaan sistem angin musim. Pengetahuan dasar mengenai angin darat dan angin laut sangat penting bagi para nelayan. Terkait kapan nelayan berangkat dan pulang dari mencari ikan. Disamping itu telah dikenal tentang perubahan musim dengan memanfaatkan perubahan angin. Para pelaut mengarungi lautan memiliki kemampuan mendeteksi penunjuk perjalanan. Pada siang hari posisi matahari digunakan sebagai penunjuk arah. Sedangkan pada malam hari pelaut menggunakan pedoman rasi bintang tertentu. Seperti rasi bintang mayang, bintang biduk dan lain-lain.
Ketiga, Angkatan Laut. Armada laut merupakan salah satu kekuatan inti dari sebuah kerajaan maritim. Angkatan laut yang kuat berfungsi dalam menjamin stabilitas dan eksistensi kerajaan khususnya dalam dunia perdagangan maritim. Sebagaimana Kerajaan Sriwijaya yang memiliki angkatan laut yang kuat sehingga tercipta ketentraman perdagangan masyarakat. Melalui perlindungan perniagaan dari adanya ancaman bajak laut yang berasal dari berbagai wilayah. Posisi Laksamana angkatan laut pada struktur pemerintahan Sriwijaya tepat berada di bawah Raja sebagai penguasa tertinggi. Menunjukkan akan pentingnya posisi jabatan tersebut. Tugas utamanya menjaga integrasi wilayah dan menjaga kepentingan perdagangan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan lain yang juga memiliki angkatan laut cukup diperhitungkan kekuatannya seperti Majapahit, Aceh, maupun Demak. Kekuatan armada laut Demak nampak ketika penyerangan terhadapa Malaka yang msih di kuasai Portugis. Pati Unus membawa sekitar 100 jung dengan 12.000 pasukan. Meski serangan ini belum membuahkan hasil armada Laut Demak menunjukkan sebuah kekuatan yang cukup kuat dan besar.
Keempat, tradisi kemaritiman. Merupakan sebuah kebiasaan masyarakat maritim nusantara yang berlangsung sejak lama. Umumnya tradisi masyakarat maritim ini berupa doa maupun sesajen. Sebelum melakukan pembuatan kapal ritual ini biasanya dilakukan. Ada hal menarik yang ditemukan pada lambung kapal pelaut nusantara terdapat gambar mata. Kebiasaan universal ini merupakan kepercayaan tradisional masyarakat nelayan hingga saat ini. Kemungkinan gambar tersebut menunjukkan bahwa mata sebagai penunjuk gerak arah kapal agar tidak tersesat dalam pelayaran. Dalam tradisi masyrakat maritim Aceh, terdapat iring-iringan yang menyertai Sultan Iskandar Muda ke masjid pada hari raya Idul Adha. Di mulai dari penunggang kuda penuh hiasan, diiringi dibelakangnya pasukan tombak dan raja menaiki gajah dikelilingi para satria, diikuti oleh aratusan pejabat istana dan prajurit, budak, pengiring dan bujang yang diikuti oleh pasukan dengan panglimanya masing-masing (Reid, 1992:200).
Kelima, Seni Budaya Maritim. Sejak zaman Hindhu-Budha di Indonesia perkembangan seni budaya ,maritim sudah terlihat. Terdapat seni relief di dinding candi borobudur yang menggambarkan aktivitas kehidupan maritim masyarakat. Terdapat beberapa relief melukiskan perahu lesung, kapal bercadik maupun kapal besar tidak bercadik (Notosusanto, 1984). Karya seni yang beraitan dengan kemaritiman seperti karya sastra Hamzah fansuri berupa syair Perah. Syair menceritakan tentang aktivitas laut. Seperti kemampuan teknik dan metode pelayaran yang harus dimiliki pelaut atau pedagang agar tidak tersesat dan tenggelam. Serta menceritakan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatera, Malaya dan Jawa. Hal ini mengingatkan bahwa Islam tersebar melalui melalui saluran perdagangan (Soekmono, 1981). Seni budaya peninggalan kerajaan maritim Islam seperti Aceh, Samudera Pasai, Banten, Mataram adalah komplek kraton. Susunan halaman rumah hingga bagian rumah disebut dalem pada komplek kraton. Serupa dengan konsep kraton, komplek makam Islam seperti Sendangdhuwur, Kudus, dan Lamongan. Di dalam kota kerajaan terdapat masjid, pasar, pusat pemerintahan serta perkampungan-perkampungan tertentu seperti kauman, pecinan maupun pekojan. Masjid kuno di Indonesia juga menunjukkan kekhasan arsitektur dengan atap tumpang serta denah berbentuk persegi empat dengan serambi di depan atau disamping. Gaya atap tumpang tidak lepas dari pengaruh Hindhu-Budha mirip bangunan candi.
Keenam, kota dan masyarakat pelabuhan. Ciri khas yang menonjol pada masyarakat kota pelabuhan atau maritim adalah adanya keterbukaan dalam menerima unsur-unsur luar. Kota-kota yang umumnya terletak di daerah pesisir dan muara sungai besar berfungsi sebagai pusat kerajaan yang bercorak maritim seperti kota kadipaten dan kota pelabuhan. Kota-kota seperti Samudera pasai, Aceh, Malaka, Demak, Gresik, Tuban, Banten, Ternate dan tempat lain merupakan kota-kota maritim pusat kerajaan Islam.
Masyarakat kota pusat kerajaan maritim lebih menitikberatkan kehidupan pada perdagangan. Sebagaimana pendapat Darto (2016:4) Bahwa ciri lain dari kehidupan di pesisir adalah kuatnya iklim usaha, kewirausahaan atau kepialangan. Perdagangan maupun kepialangan adalah aktifitas dan usaha penting bagi ekonomi pesisir.
Di dalam kota terdapat tempat peribadatan (masjid) pasar, dan bangunan untuk penguasa yaitu kraton terdapat pula perkampungan. Perkampungan itu ada yang didasarkan kepada status sosial-ekonomi, status keagamaan, serta status kekuasaan dalam pemerintahan. Biasanya tempat perkampungan untuk pedagang asing ditentukan oleh masing-masing penguasa kota. Di kota Malaka terdapat perkampungan para pedagang asing dari Gujarat Koromandel Hindu, Persi, Arab, Cina, dan perkampungan pedagang asal Indoensia (Supangat, 2003). Di kota pusat kerajaan lainnya yang berfungsi sebagai kota tempat pelabuhan, ada perkampungan yang berdasarkan jenis pekerjaan. Misalnya Panjunan tempat tinggal para tukang, Kademangan yaitu tempat tinggal para demang, di Gresik terdapat Kampung Kemasan yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang emas, kampung pecinan sebagai tempat pemukiman warga Tionghoa dan lain sebagainya.
Mengenai munculnya perkampungan asing di wilayah pesisir utara Jawa pada umumnya dan Gresik khususnya, selain mengacu pada pendapat di atas dapat pula mengacu pada pendapat Anthony Reid. Reid (1992:52) mengatakan bahwa untuk kembali ke negara asalnya, para pedagang harus menunggu perubahan arah angin dengan membentuk perkampungan berdasarkan etnis tidak jauh dari pelabuhan tersebut. Tujuan pembentukannya adalah untuk memudahkan komunikasi di antara mereka.
Pembentukkan tempat tinggal merupakan wadah fungsional yang didasarkan pada pola aktivitas manusia. Pola tersebut boleh bersifat fisik dan non fisik. Pemukiman merupakan refleksi dari kekuatan-kekuatan sosial budaya seperti kepercayaan, hubungan kekeluargaan, organisasi sosial, dan interaksi sosial antara individu. Pemukiman yang dibentuk oleh suatu kelompok masyarakat secara sadar maupun tidak sadar akan menghasilkan sebuah pola. Sebagai contoh, ada keterkaitan dan hubungan geografis antara desa dengan daerah perbukitan atau lembah. Letak geografis membedakan perubahan sosial, pendapatan, tingkah laku, dan kepercayaan (Marpaung, 2009:3). Terbentuknya Kampung Kemasan secara sosiologis merupakan sebuah proses panjang dari kemampuan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan. Posisi strategis Gresik di pesisir pantai dalam jalur pedagangan maritim Nusantara menjadikan wilayah tersebut sangat heterogen. Gresik sebagai pintu gerbang masuknya kebudayaan-kebudayaan luar secara perlahan terserap ke dalam pola kehidupan. Kebudayaan tersebut dibawa oleh para pedagang-pedagang asing. Cukup banyak pedagang-pedangang asing singgah bahkan menetap dengan keberadaan orang-orang Cina, Arab, maupun Eropa di Gresik. Menurut Firdaus dan Ramadhani (2018: 35) lokasi kota tua yang ada di Gresik dibagi menjadi 5 zona etnisitas yaitu Kampung Arab Melayu, Kampung Pecinan, Pribumi, Area Kolonial Belanda, dan Kampung Peranakan.
Gambar 3. Struktur Morfologi dan Komponen Ruang Kota Lama Gresik
(Sumber : Ariestadi , 2017: 4)
Kampung ini diawali dengan kedatangan seorang saudagar dari China yang terkenal sebagai pembuat emas, bernama Bak Liong yang tinggal pertama di Kampung Kemasan. Karena profesi seorang Bak Liong sebagai pengrajin emas sehingga disebut Kampung Kemasan (Riezinta, 2015). Banyak terdapat rumah-rumah tua berumur ratusan tahun yang kini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan-bangunan tersebut memiliki keunikan dari segi arsitektur yaitu adanya silang budaya atau perpaduan budaya. Kampung Kemasan adalah salah satu bentuk kawasan pemukiman multietnis di Gresik. Perkampungan ini pada mulanya adalah tempat pemukiman orang-orang kaya dari Eropa serta kaum Bumiputera (Wibisono, 2016:45).
Gambar 4. Sebaran Bangunan di Kampung Kemasan
(Sumber: Wibisono, 2016: 9)
Silang Budaya atau akulturasi merupakan suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia yang memiliki suatu kebudayaan tertentu berhubungan dengan unsur-unsur dan suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kebudayaan awal. Berdasarkan hal tersebut kebudayaan memiliki dua bagian, yakni bagian yang sukar berubah/terpengaruh (covert culture) dan kebudayaan yang mudah berubah/terpengaruh (overt culture). Covert culture meliputi sistem nilai-nilai budaya, keyakinan-keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, adat yang sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat dan adat yang mempunyai fungsi yang terjaring luas dalam masyarakat. Sementara overt culture meliputi kebudayaan fisik, ilmu pengetahuan, tata cara, gaya hidup, dan rekreasi (Ayuningrum, 2017:130)
Silang budaya dimulai ketika sebuah kebudayaan awal bertemu dengan kebudayaan baru. Kemudian unsur-unsur dari masing-masing kebudayaan yang berbeda saling bercampur satu sama lain sebagai akibat dari pergaulan atau interaksi yang intensif dalam waktu yang lama, namun tidak menyebabkan munculnya budaya baru. Dengan kata lain dua kebudayaan yang berbeda membentuk sebuah kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri masing-masing kebudayaan.
Pada Kampung Kemasan terdapat bangunan-bangunan kuno yang berumur ratusan tahun. Rumah-rumah tersebut memiliki arsitektur unik. Representasi silang budaya dari kedua bangsa yang berbeda terlihat pada bangunan-bangunan kuno pada Kampung Kemasan. Bentuk dan motif bangunan di Kampung Kemasan mendapat sentuhan pengaruh budaya Cina dan Eropa maupun lokal.
Gambar 5. Rumah Tua di Kampung Kemasan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Silang budaya atau akulturasi antara budaya China dan Eropa terlihat pada bangunan yang memiliki warna dominan merah yang merupakan warna khas dari kebudayaan China. Berdasarkan kepercayaan dan ajaran budaya China warna merah melambangkan antusiasme, semangat dan keberuntungan. Konsep bangunan China juga menganut konsep keseimbangan dan keindahan. Nampak pada bangunan Kampung Kemasan bagian lantai pertama dan lantai kedua memiliki jumlah jendala dan pintu yang sama. Jumlah pintu di lantai pertama terdapat delapan buah pintu dan pada lantai kedua terdapat delapan buah jendela (Zainuddin, 2019). Zainuddin juga mengungkapkan bahwa sebagian besar rumah-rumah hunian di Kampung Kemasan dibagian atap lantai dua terdapat sarang walet. Hal ini menunjukkan pengfungsian rumah sebagai sarang walet merupakan kebiasaan penduduk lokal atau Bumiputera. Bukan kebiasaan dari orang-orang Eropa maupun China.
Gambar 6. Rumah tua di Kampung Kemasan
(Sumber: Koleksi Pribadi)
Silang budaya juga terlihat pada arsitektur pada bangunannya. Bangunan khas budaya kolonial terepresentasi pada bangunan-bangunan yang megah lambang status sosial dari pemiliknya. Terdapat pilar-pilar yang menunjukkan kekokohan bangunan. Ciri lain bangunan masa kolonial memiliki pintu-pintu maupun jendela berukuran besar. Pada ventilasi udara atau lubang angin terdapat ornamen ikal-ikal sulur tumbuhan berakhir membentuk lambang aries ram yaitu kambing bertanduk (Tutuko, 2003:10)
Wujud silang budaya maritim terlahir dari sebuah proses interaksi sosial yang panjang sehingga memunculkan sebuah budaya baru yang memperkaya budaya masyarakat. Hal merupakan bukti dampak perkembangan Gresik sebagai kota maritim yang dinamis. Terbentuknya Kampung Kemasan sebagai entitas budaya menghasilkan sebuah perpaduan dua unsur budaya China dan Eropa atau Kolonial dalam arsitektur bangunan tua maupun budaya lokal.
PENUTUP
Bersadarkan hasil penelitian menyimpulkan bahwa terbentuknya Kampung Kemasan diawali dengan kedatangan seorang saudagar dari China yang terkenal sebagai pengrajin emas, bernama Bak Liong. Karena profesi seorang Bak Liong ini sehingga disebut Kampung Kemasan. Kampung ini merupakan kawasan pemukiman multietnis di Gresik. Pada mulanya adalah tempat pemukiman orang-orang kaya dari Eropa serta kaum Bumiputera. Kampung Kemasan memiliki ciri khas dari segi arsitektur bangunan kuno yang tetap lestari. Terdapat bangunan kuno berumur ratusan tahun yang kini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan-bangunan tersebut memiliki keunikan dari segi arsitektur yaitu adanya silang budaya atau perpaduan budaya. Warna, bentuk dan motif arsitektur bangunan di Kampung Kemasan banyak mendapat sentuhan pengaruh budaya Cina dan Eropa maupun lokal.
Bangunan pada Kampung Kemasan yang didominasi warna merah yang merupakan warna khas China. Sedangkan bangunan khas budaya kolonial terepresentasi pada bangunan yang megah lambang status sosial dari pemiliknya. Pilar-pilar serta tembok yang tebal menunjukkan kekokohan bangunan. Ciri lain bangunan masa kolonial dilengkapi dengan pintu maupun jendela berukuran besar. Perpaduan budaya lokal juga nampak pada bangunan Kampung kemasan yaitu terdapat sarang-sarang walet. Melihat dari keseluruhan arsitektur bangunan Kampung Kemasan hal ini menunjukkan adanya evidensi dan wujud silang budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Adji, Kris (Ed), 2018. Gresik Mutiara Pulau Jawa. Gresik: Yayasan Mataseger. Hal 56
Ariestadi, dkk. 2017. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali 2017.
Armand Firdhaus dan Nugrahardi Ramadhani, 2018. Perancangan Video Edukasi Sejarah Daerah Kota Tua Gresik untuk Meningkatkan Kesadaran Sejarah Masyarakat di Kota Gresik. Jurnal Sains Dan Seni Its. 7(1), 35¯40.
Ayuningrum, Diah. 2017. Akulturasi Budaya Cina dan Islam Dalam Arsitektur Tempat Ibada di Kota Lasem, Jawa Tengah (Akulturasi Budaya Cina Dan Islam dalam Arsitektur Tempat Ibadah Di Kota Lasem, Jawa Tengah). Sabda Volume 12, Nomor 2, Desember 2017, hal 130
Cortesao, Armando. 1944. The Suma Oriental of Tome Pires. An account of the east, from Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 (2 vol.). Translated from Portuguese MS. In the Bibliotheque de la Chambre des Deputes, Paris, and edited by Armando Cortesao. London: Hakluyt Society.
Darto Harnoko (Ed.) 2016. Bunga Rampai Lawatan Sejarah Regional : Menelusuri Jejak Sejarah Maritim di Pantai Utara Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta : Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) hlm. 4
De Graaf, H.J& Pigeaud.1985. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Jakarta Pustaka Utama Grafiti.
Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaja Compiled from Chinesse Sources. Jakarta: Bhatara, hlm. 45
Inagurasi, L.H. 2017. Komoditas Perdagangan di Pelabuhan Internasional Samudra Pasai Pada Masa Dulu Dan Masa Kini: Jurnal Kapata Arkeologi, 13(1), hal 21
Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru
Marpaung, Benny OY&Alip, Madya. 2009. Fenomena Terbentuknya Kampung Kota oleh Masyarakat Pendatang Spontan. Medan: CV Suryaputra Pasca Mandiri, hal 3
Pindo Tutuko. 2003. Ciri Khas Arsitektur Rumah Belanda (Studi Kasus Rumah Tinggal di Pasuruan). Mintakat, Jurnal Arsitektur, Volume 2 Nomer 1, September 2003, hal 10
Poesponegoro, M.J, Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka.
Regerings Almanak 1855, dalam Tim Penyusun. 2003. Gresik Dalam Perspektif Sejarah, Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik: Dinas Pariwisata Informasi dan Komunikasi, hlm. 41
Reid, Anthony. 1992. Dari Ekspansi Hingga Krisis II: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, Jakarta: Yayasan Obor, hlm. 52
Rizienta,dkk .2015. Arsitektur Fasade Bangunan Rumah Tinggal Kolonial Belanda Di Kawasan Nyai Ageng Arem-Arem Gresik. Arsitektur Student Journal. Vol.3 No.4
Soekmono. 1981. Pengantar Sejarah Kebudyaan Indonesia 3. Jogjakarta: Kanisius
Soerjono Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja GrafindoPersada, hlm. 205
Supangat, Agus (Ed). 2003. Sejarah Maritim Indonesia: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Dalam Proses Integrasi Bangsa. Semarang: Pusat Kajian Sejarah dan Budaya Maritim Asia tenggara UNDIP
Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam. Penelitian. Surakarta: UNS Press.
Tim Penyusun Buku Hari Jadi Kota Gresik.1991. Kota Gresik : Sebuah Perpektif Sejarah Hari Jadi Gresik. Gresik:Tim Penyusun Sejarah Hari Jadi Kota Gresik, hal 19.
Wibisono, Alga. 2016. Pengembangan Kawasan Wisata dengan Pendekatan Community Based Tourism di Kampung Kemasan, Gresik. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: FT ITS.
Prajodko, Didik & Utomo, Bambang. 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Reid, Anthony. 2014. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I: Tanah di Bawah AnginA. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid II: Jaringan Perdagangan. Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Zainuddin, Umar. 2019. Sejarah Kampung Kemasan Gresik. Hasil Wawancara: 21 Februari 2019, Gresik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar